APLIKASI PENGENDALI EKSPOR - IMPOR

Menunjang program Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas produk lokal, khususnya UMKM Jatim, serta melindungi konsumen Jatim dari barang-barang impor berbahaya.

Jawa Timur kini punya Aplikasi pengendali ekspor dan impor berbasis online. Aplikasi bernama “Dashboard Pengendalian Ekspor dan Impor Provinsi Jawa Timur” dengan alamat http://dashboardexim.disperindag.jatimprov.go.id tersebut bertujuan untuk mendorong proses ekspor dan mengawasi barang impor yang masuk ke Jatim.

            Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan aplikasi tersebut adalah inovasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim. Dia juga sangat menyukai aplikasi tersebut.

“Aplikasinya bagus, sudah sesuai, bahkan melebihi ekspektasi saya, saya percaya aplikasi ini akan menjadi tools yang tepat untuk meningkatkan daya saing kita, khususnya produk-produk lokal dan juga menjadi barrier terhadap barang-barang impor yang berbahaya,” kata Pakde Karwo, di Surabaya, Sabtu (18/6).

Menurut Pakde Karwo, aplikasi ini nantinya akan menjadi andalan Jatim dalam era perdagangan bebas. Saat ini, kata dia, pihaknya telah meminta Disprindag untuk menyempurnakan aplikasi tersebut sebelum dilaunching.

“Saat ini belum ada provinsi di Indonesia yang membuat aplikasi seperti ini. Nanti saya akan bicarakan dengan Dirjen Bea dan Cukai, kerja yang bagus dari Disperindag Jatim,” katanya,

Sementara itu, Kepala Disperindag Jatim, Moch. Ardi Prasetiawan, mengatakan optimis aplikasi yang dibuatnya dapat menunjang program Pemprov Jatim yang ingin meningkatkan kualitas  produk lokal, khususnya UMKM Jatim, serta melindungi konsumen Jatim dari barang-barang impor berbahaya.

Aplikasi yang bernama “Dashboard” Pengendalian Ekspor dan Impor Provinsi Jawa Timur ini sebagai bagian dari upaya pengendali ekspor dan impor berbasis dalam jaringan untuk mendorong proses ekspor maupun mengawasi barang impor yang masuk.

Dalam aplikasi ini, kata Ardi, terdapat beberapa menu yang disajikan secara lengkap, diantaranya data ekspor impor, dimana terdapat jumlah transaksinya, komposisinya, trendnya, 10 besar barang yang diekspor maupun diimpor, dan Negara tujuan ekspor dan impor tersebut, seluruhnya ditampilkan secara apik melalui grafis pie chart maupun diagram chart.

Kemudian, menu lainnya adalah monitoring ekspor-impor. Pada menu ini bisa terlihat perkembangan ekspor-impor barang secara spesifik dan periodik, nilai transaksi, dan prosentase perbandingan barang tersebut.

“Bahkan jika diijinkan, aplikasi ini bias melihat perusahaan yang melakukan ekspor impor tersebut,” jelasnya.

Menu yang tak kalah bagusnya adalah Perijinan dan Uji Petik, yang difungsikan untuk mengetahui dan mengawasi barang-barang impor yang masuk ke Jatim. Ini sebagai tools barrier non tarif terhadap barang berbahaya yang masuk ke Jatim. Istimewanya, aplikasi ini update secara real time H-1.

“Di lapangan, kami siapkan petugas yang bekerjasama dengan stakeholder, seperti BPOM, atau Balai Karantina untuk mengetes barang impor yang masuk ke Jatim. Jika barang tersebut berbahaya, maka petugas akan menginputkan ke aplkasi ini, dan menahan barang tersebut agar tidak beredar. Kemudian barang tersebut dikirim ke lab, jika memang sesuai standar, barang tersebut boleh keluar dari gudang, boleh diedarkan, dan secara otomatis semua operasi ini tercatat di system dalam aplikasi,” terangnya.

Meski baru prototype, M Ardi Prasetyawan optimistis aplikasi ini dapat menunjang program Gubernur Jatim yang ingin meningkatkan kualitas produk lokal, khususnya UMKM Jatim. Aplikasi tersebut diyakini juga dapat melindungi konsumen Jatim dari barang-barang impor berbahaya yang masuk ke Jatim.